Waktu itu aku pergi ke gramedia, iseng liat novel-novel psikologi. Terus aku tertarik sama satu novel, judulnya "It's Me : Kisah Nyata Penyandang Mutisme Elektif". Aku penasaran sama apa itu penyakit 'Mustisme Elektif'. Well berhubung waktu itu aku lagi kere-here-boke aku nggak mampu beli buku itu yaudah aku foto aja. Dan baru hari ini aku sempet browsing tentang penyakit itu. Dan inilah hasilnya, menarik untuk disimak, dipelajari, dihayati, dan dibaca :D haha cekidot~
Mutisme Selektif adalah salah satu gangguan kecemasan pada anak, gangguan ini dicirikan dengan anak yang tidak dapat berbicara bila berada dalam lingkungan sosial padahal di tempat biasa anak dapat berbicara dengan sangat faseh/lancar. memilih tidak berbicara pada situasi – situasi tertentu ataupun orang – orang tertentu.
Dalam keadaan ini anak tidak bicara karena tidak mau bicara. Mereka dapat bicara pada saat sendiri, bersama kawan yang disukainya dan kadang-kadang dengan orang tuanya, tetapi tidak bicara di sekolah, di depan umum atau dengan orang asing. Lebih sering ditemukan pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. Sering disertai gangguan penyesuaian diri, sangat tergantung orang tua, negativistik, pemalu, menarik diri. Keadaan ini dapat menetap beberapa bulan sampai beberapa tahun.
Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.
Anak Mutisme selektif mengalami kesulitan untuk merespon atau memulai komunikasi dalam situasi sosial karena rasa takut dan cemas untuk melakukannya. Rasa takut atau cemas ini diekspresikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pada sebagian anak, ada yang menjadi sama sekali membisu atau tidak berbicara pada siapapun di situasi sosial, sedangkan yang lain mau berbicara hanya pada orang-orang tertentu atau berbicara dengan suara yang sangat pelan atau berbisik.
Perilaku Anak Mutisme selektif menunjukkan tampilan sebagai anak yang sangat pemalu, ketakutan akan dipermalukan dalam situasi sosial, pencemas, terisolasi secara sosial, cenderung temper tantrum, berprilaku oppositional,moody, agresif, keras. Diluar berkomunikasi dengan verbalisasi standar, anak dengan gangguan ini mungkin akan berkomunikasi dengan gestures, mengangguk atau menggelengkan kepala, mendorong atau menarik, atau pada beberapa kasus dengan kata-kata tunggal, pendek dan tanpa suara.
Prevalensi terjadinya gangguan ini cukup kecil, berkisar antara 1-2 % dan data ini pun didapatkan dari hasil penelitian di luar negeri. Mutisme selektif umumnya lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dengan rasio 3 : 1.
Mutisme selektif juga dikatakan sangat dekat hubungannya dengan gangguan kecemasan dan sebagai bentuk varian dari social phobia.
Dampak negatif dari gangguan mutisme selektif antara lain :
1. Mutisme selektif membuat kesempatan anak untuk berinteraksi menjadi terbatas, keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bahasa dan mengurangi keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah dengan murid yang lain .
2. mempengaruhi prestasi akademis, karena guru mengalami kesulitan untuk menilai kemampuan dan pemahaman terhadap materi karena anak mutisme selektif yang tidak mau berbicara.
3. membuat gangguan kecemasan menjadi semakin memburuk
4. menjadi depresi dan memunculkan gangguan kecemasan lainnya
5. penghargaan diri dan percaya diri rendah
6. Menolak sekolah (school refusal), prestasi belajar rendah dan kemungkinan berhenti sekolah
7. menjadi underachievement secara akademis dan di tempat kerja
Beberapa ciri yang menunjukkan seseorang mungkin mengalami Mutisme Elektif :
1. Kesulitan untuk berbicara di situasi sosial tertentu, misal sekolah.
2. Gangguan berkomunikasi ini bisa terjadi lebih dari 1 bulan (tidak hanya cuma 1 hari atau beberapa jam : kalo itu sih kayaknya cuma mutung -ngambek- )
3. Ekspresi wajah kosong saat gelisah
4. Kurang tersenyum ketika cemas
5. Merasa canggung jika gelisah
6. Kesulitan kontak mata saat berinteraksi
7. Membutuhkan waktu lebih lama dari orang lain saat merespon pertanyaan
8. Tidak nyaman pada kondisi bising, gaduh, atau ramai orang
9. Over sensitif
Mengabaikan anak yang mengalami hal seperti ini bisa menciptakan perilaku yang mendarah daging yang pada akhirnya si anak akan semakin kesulitan untuk berekspresi secara verbal.
Jika tidak diobati hal ini akan mengganggu akademis si anak, kehidupan sosial dan perkembangan emosional seperti :
1. membentuk rasa cemas
2. penarikan diri dari lingkungan sosial
3. rasa rendah diri
4. penolakan dan menurunnya hasil akademis atau prestasi baik di sekolah ataupun dunia kerja (kelak)
5. obat-obatan
6. kriminalisme
7. yang terburuk - bahkan bunuh diri
Fokus “penyembuhkan” pada seseorang yang mengalami ini adalah menghilangkan kecemasan, meningkatkan percaya diri terutama di lingkungan sosial.
Mungkin membuat mereka nyaman tanpa berharap banyak mereka untuk berbicara justru akan menimbulkan kenyamanan tersendiri mereka untuk berkomunikasi secara wajar dan santai.
Saran ketika menghadapi anak atau seseorang seperti ini adalah :
1. Tetap berusaha berkomunikasi walaupun tidak mendapat respon
2. Melibatkan seseorang yang mutisme elektif ke dalam interaksi bersama orang lain dalam group kecil
3. Bertanyalah dengan pertanyaan yang bervariasi, sebaiknya tidak terlalu sering menatapnya dengan tatapan langsung dan tajam
4. Gunakan bahasa yang paling membuat ia nyaman - perhatian kata-kata yang biasa digunakannya
5. Menerima respon non verbal lain yang ia keluarkan - bahasa tubuh
6. Hargai upayanya walau masih minim - jauh dari harapan kita
Adapun penerapan terapi perilaku pada gangguan mutisme selektif dengan menggunakan pendekatan desensitisasi, pembiasaan dan positive reinforcement. Tipe desensitisasi yang diterapkan menggunakan fading therapy. Fading therapy adalah tipe desensitisasi dengan membuat rentetan kejadian-kejadian yang dimulai dari suatu situasi yang nyaman untuk anak, kemudian memperkenalkan secara bertahap situasi-situasi yang lebih sulit. Tipe pembiasaan dengan cara membiasakan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan membiasakan anak bertemu dengan orang yang baru. Membiasakan anak bersosialisasi dengan teman sebaya dilakukan dalam 4 kali pertemuan dengan waktu 2 jam setiap kali pertemuan_ Sedangkan membiasakan anak bertemu dengan orang barn dilakukan selama 4 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan dalam waktu 2 jam setiap kali pertemuan. Sedangkan tipe reinforcement menggunakan pendekatan play therapy. Setiap respon yang sesuai dengan harapan diberikan positive reinforcement, tetapi punishment tidak diberikan pada respon yang tidak sesuai harapan. Positive reinforcement diberikan untuk semua bentuk komunikasi, termasuk ekspresi wajah dan gesture dan secara berangsur-angsur hanya berbisik dan berbicara normal. Bentuk positive reinforcement berupa pujian dan hadiah.
Torey Hayden, salah satu referensi pengarang novel kisah nyata yang menceritakan kisahnya dengan anak-anak Mutism Selektif sekaligus saya belajar dari dia bagaimana mengahadapi anak-anak berkebutuhan seperti ini.
Semoga bermanfaaat :)
-dian fm-




